Fatwa DSN 34/DSN-MUI/IX/2002: Letter of Credit (L/C) Impor Syari'ah

Pertama: Ketentuan Umum

  1. Letter of Credit (L/C) Impor Syariah adalah surat pernyataan akan membayar kepada Eksportir yang diterbitkan oleh Bank untuk kepentingan Importir dengan pemenuhan persyaratan tertentu sesuai dengan prinsip syariah.
  2. L/C Impor Syariah dalam pelaksanaannya menggunakan akad-akad: Wakalah bil Ujrah, Qardh, Murabahah, Salam/Istishna’, Mudharabah, Musyarakah, dan Hawalah.

Kedua: Ketentuan Akad

Akad untuk L/C Impor yang sesuai dengan syariah dapat digunakan beberapa bentuk:

  1. Akad Wakalah bil Ujrah dengan ketentuan:
    • Importir harus memiliki dana pada bank sebesar harga pembayaran barang yang diimpor;
    • Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
    • Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.
  2. Akad Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan:
    • Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor;
    • Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
    • Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;
    • Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada importir untuk pelunasan pembayaran barang impor.
  3. Akad Murabahah dengan ketentuan:
    • Bank bertindak selaku pembeli yang mewakilkan kepada importir untuk melakukan transaksi dengan eksportir;
    • Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh bank saat dokumen diterima (at sight) dan/atau tangguh sampai dengan jatuh tempo (usance);
    • Bank menjual barang secara murabahah kepada importir, baik dengan pembayaran tunai maupun cicilan.
    • Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank akan diperhitungkan sebagai harga perolehan barang.
  4. Akad Salam/Istishna’dan Murabahah, dengan ketentuan:
    • Bank melakukan akad Salam atau Istishna’ dengan mewakilkan kepada importir untuk melakukan transaksi tersebut.
    • Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh bank;
    • Bank menjual barang secara murabahah kepada importir, baik dengan pembayaran tunai maupun cicilan.
    • Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank akan diperhitungkan sebagai harga perolehan barang.
  5. Akad Wakalah bil Ujrah dan Mudharabah, dengan ketentuan:
    • Nasabah melakukan akad wakalah bil ujrah kepada bank untuk melakukan pengurusan dokumen dan pembayaran.
    • Bank dan importir melakukan akad Mudharabah, dimana bank bertindak selaku shahibul mal menyerahkan modal kepada importir sebesar harga barang yang diimpor.
  6. Akad Musyarakah dengan ketentuan: Bank dan importir melakukan akad Musyarakah, dimana keduanya menyertakan modal untuk melakukan kegiatan impor barang.
  7. Dalam hal pengiriman barang telah terjadi, sedangkan pembayaran belum dilakukan, akad yang digunakan adalah:

Alternatif 1:

Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan:

  1. Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor;
  2. Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
  3. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;
  4. Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada nasabah untuk pelunasan pembayaran barang impor.

Alternatif 2:

Wakalah bil Ujrah dan Hawalah dengan ketentuan:

  1. Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor;
  2. Importir dan Bank melakukan akad Wakalah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
  3. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;
  4. Hutang kepada eksportir dialihkan oleh importir menjadi hutang kepada Bank dengan meminta bank membayar kepada eksportir senilai barang yang diimpor.

Ketentuan Penutup:

Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di: Jakarta
Tanggal: 06 Rajab 1423 H / 14 September 2002 M

(i)nlawnesia, Research & Development for Indonesian Legal Logic.